historiografi.com

Membaca Kembara dan Pengasingan Tan Malaka

Membaca Kembara dan Pengasingan Tan Malaka

[Artikel ini adalah ulasan atau resensi untuk buku Dari Pengasingan ke Pengasingan karya Tan Malaka] Sejarah pergerakan nasional Indonesia yang mencita-citakan terbentuknya sebuah negara merdeka digerakkan salah satunya oleh para aktivis yang, tidak bisa tidak, hampir sebagian besarnya adalah penulis. Setidaknya, kalaupun bukan penulis dalam artian yang produktif menghasilkan buku, para aktivis ini pasti melakukan…

[Artikel ini adalah ulasan atau resensi untuk buku Dari Pengasingan ke Pengasingan karya Tan Malaka]

Sejarah pergerakan nasional Indonesia yang mencita-citakan terbentuknya sebuah negara merdeka digerakkan salah satunya oleh para aktivis yang, tidak bisa tidak, hampir sebagian besarnya adalah penulis. Setidaknya, kalaupun bukan penulis dalam artian yang produktif menghasilkan buku, para aktivis ini pasti melakukan aktivitas menulis sebagai bagian dari perjuangan. Dan salah satu tokoh pergerakan yang karyanya hampir terus menerus dibaca hingga delapan dekade pasca proklamasi kemerdekaan dilakukan adalah Tan Malaka. Sosok yang hanya sempat empat tahun melihat negara yang ia impikan itu merdeka meninggalkan sedemikian banyak karya. Madilog tentu saja menjadi karya yang disebut-sebut sebagai magnum opus, juga menjadi sebuah buku yang kerap dicari dan dibaca di mana-mana. Otobiografi sekaligus memoarnya, Dari Penjara ke Penjara, juga tidak kalah laris.

Dalam sebuah siniar, Zen RS yang mengelola Toko Buku Bebasari di Jakarta menyebutkan bahwa Madilog adalah buku yang kerap kali ditanyakan dan dibeli oleh para pembaca. Hanya dalam tempo beberapa bulan saja tokonya mampu menjual ratusan eksemplar Madilog. Berbagai penerbit menerbitkan karya yang telah menjadi public domain tersebut. Apa yang dikisahkan Zen di atas kukira sama dengan hasil pengamatan sekilas dalam beberapa tahun terakhir. Misalnya saja, di jaringan toko buku terbesar di Indonesia, Madilog sudah hampir pasti selalu ada setiap waktu. Sepanjang satu dekade tinggal di Yogyakarta, dalam setiap pagelaran bazar atau pameran buku, karya Tan yang satu ini juga nyaris tidak pernah absen. Bahkan, saat beberapa kali mengikuti kegiatan Banjarmasin Book Party sejak tahun lalu, selalu ada saja sesama teman pembaca yang berkisah telah atau sedang membaca buku tersebut. Artinya, minat dan permintaan terhadap buku-buku Tan Malaka sangat tinggi.

Apa yang kemudian perlu dicari? Persis di titik itulah Zen RS, yang dikenal sebagai penulis dan periset sejarah itu kemudian lakukan, yakni dengan menerbitkan naskah Tan Malaka yang agaknya belum pernah dikenal sama sekali oleh pembaca kiwari. Pada dasarnya, semua naskah Tan Malaka yang pernah terbit dalam terjemahan bahasa Indonesia, sudah terpampang lengkap di laman Marxists[dot]org sebagai sebuah situs yang menghimpun berbagai karya tulisan Kiri dari seluruh dunia. Tapi ternyata itu belum semua, karena ada tulisan-tulisan Tan yang masih dalam bahasa asli saat naskah itu ditulis, dan terserak serta terkunci dalam repositori arsip atau perpustakaan. Jadilah kemudian sebuah buku yang oleh penyusunnya dijuduli Dari Pengasingan ke Pengasingan.

Kover Buku “Dari Pengasingan ke Pengasingan”, kumpulan tiga tulisan Tan Malaka yang untuk pertama kalinya diterjemahkan dan diterbitkan ke dalam bahasa Indonesia. Disusun oleh Zen RS dan diterbitkan Metis Publisher. (Foto: Willy Alfarius)

Teks yang Jarang Dikenal

Ada tiga artikel Tan Malaka yang diterjemahkan dalam buku ini, yaitu Pengasinganku (1922), Surat dari Seorang Tanpa Negeri dan Negara (1933), dan Sekolah Sarekat Islam sebagai Sepucuk Pistol di Dada Pemerintah Kolonial (1922). Buku yang dibuat berukuran saku ini menjadi istimewa karena beberapa sebab. Pertama, karena ketiganya belum pernah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, sehingga keterbacaannya di masa kini memang masih minim (atau bahkan belum terjangkau sama sekali karena ia tadinya berupa artikel koran dan sebuah surat yang kemudian dihimpun menjadi arsip). Kedua, fase krusial dalam hidup Tan Malaka ketika menjadi seorang yang diasingkan, dijauhkan dari tanah airnya, terekam dengan baik melalui artikel dan surat ini. Ketiga, apa yang ditulis oleh Tan Malaka nyaris satu abad lalu ternyata masih relevan dengan kondisi hari ini meski secara formal kekuasaan kolonial Hindia Belanda sudah bangkrut. Hal yang terakhir ini tentu saja yang membuat sangat miris dan menyedihkan karena itu berarti Indonesia hampir tidak beranjak kemana-mana dalam waktu delapan dekade merdeka ini; hanya berubah wujud saja di permukaan, tapi esensi negara kolonialnya yang menindas, mengeksploitasi, dan merendahkan martabat kemanusiaannya masih juga belum sirna sampai kini.

Dalam tulisannya yang berupa surat permohonan bantuan suaka di Tiongkok, Tan menjelaskan kondisinya saat itu. Sebagai seorang yang dibuang oleh pemerintah kolonial sejak 1922, ia hidup mengembara dari satu tempat ke tempat lain sebagai orang tanpa kewarganegaraan. Ia diburu, diincar keberadaannya, oleh sebab aktivitas politiknya yang dinilai subversif dan berpotensi mengganggu kenyamanan dan keamanan negara kolonial. Segala kritik dan pergerakannya dinilai sebagai ancaman untuk negara Hindia Belanda, sehingga di mana saja dia bergerak, polisi kolonial akan selalu membuntuti dan berusaha menyergapnya. Dalam keadaan demikian, ia mesti menanggung hidup yang teramat berat terutama dengan kondisi fisik yang semakin menurun. Meski di sisi lain, semangat revolusionernya sama sekali tidak padam kendati ia menghadapi ancaman kehilangan nyawa di depan mata.

Di tulisan lainnya yang berupa artikel di surat kabar (dipecah menjadi dua tulisan oleh penyusun), Tan juga mengisahkan riwayat aktivismenya sebagai seorang guru sekaligus penggerak partai yang juga membuat resah pemerintah kolonial. Melalui sekolah Sarekat Islam yang ia bangun dan kelola di Semarang, dengan semangat “merah” yang begitu membara, Tan menyiapkan lulusan sekolah tersebut nantinya tidak hanya sekadar menjadi pribadi yang pandai membaca, menulis, dan berhitung guna kepentingan mesin kapital kolonial saja. Usahanya membangun kesadaran revolusioner sebagai objek yang selama ini dijajah, dieksploitasi, dan dimiskinkan oleh kolonialisme, menjadikan pemerintah kolonial melalui aparatus kepolisian dan intelijen memata-matai apa yang Tan lakukan. Akhir ceritanya, Tan ditangkap dan dihukum dengan menggunakan mekanisme yang sangat culas: exorbitante rechten alias hak istimewa gubernur jenderal yang dapat dilakukan tanpa proses pengadilan untuk menangkap, memenjara, dan mengusir siapa saja yang dianggap mengancam rust en orde (keamanan dan ketertiban) negeri kolonial.

Epilog yang ditulis Zen RS pada akhir buku ini kemudian menjadi penting untuk mendudukkan kembali teks-teks yang ditulis Tan satu abad yang lalu dengan kondisi sosial-politik Indonesia hari ini, terutama di tengah momentum kebangkitan kembali rezim neo otoritarian. Di tengah kondisi perekonomian yang mengalami deindustrialisasi, penghancuran alam dan lingkungan dengan begitu masif dan brutal, korupsi yang terus semakin telanjang, menguatnya ideologi militerisme dan membangkitkan kembali peran militer dalam kehidupan sipil, apa yang ditulis Tan kembali relevan (atau memang selalu relevan dari waktu ke waktu). Dalam keadaan carut-marut bangsa seperti ini, ruang-ruang kritis semakin dihabisi, ratusan hingga ribuan orang ditangkapi karena menyuarakan pendapatnya dalam rangkaian demonstrasi Agustus 2025 lalu, pers semakin dikontrol agar tidak kritis, dan segenap pembungkaman lainnya yang menjadikan situasi negara kolonial di abad yang lalu hampir pasti menemukan salinannya dalam bentuknya yang paling persis hari ini. Situasi inilah yang dijelaskan oleh Zen melalui teks-teks Tan Malaka yang ia sunting tersebut.

 

Catatan Refleksi

Tentu saja apresiasi untuk Zen RS yang mengumpulkan sekaligus menyunting terjemahan teks-teks Tan Malaka yang, agaknya, jarang sekali disebut atau dibicarakan ketika membahas sosok ini. Di tengah gelombang pasang penerbitan kembali berbagai karya Tan dengan berbagai macam versi oleh berbagai penerbit, tentu kemunculan kembali teks yang disertai penjelasan dan pengantar konteks menjadi penting. Jadinya, penerbit tidak sekadar mencari keuntungan finansial semata dari menerbitkan naskah Tan yang memang sangat laris di pasaran itu. Melainkan, penerbit dan penyusun juga memberikan pemahaman sekaligus kontekstualisasi dan relevansi tulisan tokoh ini terhadap keadaan sosial-politik Indonesia masa kini, yang berjarak sekitar 100 tahunan sejak Tan Malaka menulis dan mencita-citakan sebuah Republik yang merdeka itu.

Mungkin juga, setelah tiga naskah yang pertama kali diterbitkan ke dalam bahasa Indonesia ini dapat memantik pencarian lanjutan terhadap teks-teks Tan Malaka lainnya yang mungkin saja masih mengendap di tumpukan arsip-arsip milik negara, maupun juga terserak di berbagai surat kabar yang sebagian besar berbahasa Belanda ketika itu. Hampir mirip dengan Pramoedya Ananta Toer dan berbagai artikelnya yang berserak di berbagai surat kabar sepanjang 1950-an hingga 1960-an, bisa jadi Tan Malaka juga mengalami hal yang serupa. Seri biografi Tan yang paling otoritatif yang dikerjakan oleh Harry Poeze mungkin bisa menjadi pintu masuk untuk penelusuran ini, sebelum nantinya dihimpun dan diterbitkan kembali seperti yang dilakukan oleh Zen di atas. Bahkan lebih luas lagi, mungkin praktik serupa dapat dilakukan untuk menghimpun dan menerbitkan kembali tulisan dan pemikiran para pendiri bangsa di awal abad ke-20 itu, yang jelas sangat produktif dalam menelurkan ide dan gagasannya untuk mewujudkan suatu bangsa yang merdeka, bangsa yang 

Oh iya, ngomong-ngomong, saya penasaran dengan penerjemah tiga naskah Tan Malaka ini, yang di dalam kolofon disebutkan bernama Arnold Posumah. Siapakah gerangan?

 

Banjarmasin, 6 Agustus 2026

Kover belakang buku “Dari Pengasingan ke Pengasingan” karya Tan Malaka. (Foto: Willy Alfarius)

Data Buku

Judul: Dari Pengasingan ke Pengasingan

Penulis: Tan Malaka

Penyusun: Zen RS

Penerjemah: Arnold Posumah

Penyunting: Nurhakim

Seniman Sampul: Aldito Ilham

Ilustrasi: Syafiq Firdaus

Tata Letak: Heksa Ary

Penerbit: Metis Publisher (Bandung)

Tahun Terbit: Mei, 2026

Tebal: xi+183 hlm.

QRCBN: 62-9477-6980-157

Leave a comment

Your email address will not be published. Ruas yang wajib ditandai *