historiografi.com

Sifilis Era Kolonial: Ulasan Buku Civilisatie/Syphilisatie

Sifilis Era Kolonial: Ulasan Buku Civilisatie/Syphilisatie

Membicarakan sejarah kesehatan sering kali terjebak pada aspek medis semata. Namun, dalam ulasan buku Civilisatie/Syphilisatie: Penyakit Kelamin di Jawa 1814-1942 karya Gani A. Jaelani ini, kita akan melihat bagaimana sebuah penyakit menjadi cermin dari carut-marut sosial, politik, dan ekonomi di masa kolonial. Lewat ulasan buku ini, saya ingin membedah bagaimana narasi kesehatan sebenarnya berkaitan erat…

Membicarakan sejarah kesehatan sering kali terjebak pada aspek medis semata. Namun, dalam ulasan buku Civilisatie/Syphilisatie: Penyakit Kelamin di Jawa 1814-1942 karya Gani A. Jaelani ini, kita akan melihat bagaimana sebuah penyakit menjadi cermin dari carut-marut sosial, politik, dan ekonomi di masa kolonial. Lewat ulasan buku ini, saya ingin membedah bagaimana narasi kesehatan sebenarnya berkaitan erat dengan kekuasaan.

Saya membaca buku ini dalam edisi terbitan Pustaka Pias yang terbit pada Februari 2024. Saat menyusun ulasan buku tersebut, saya menyadari bahwa topik yang terlihat berat ternyata bisa dikemas dengan sangat apik. Sebagai orang yang amat jarang mengulik ihwal sejarah kesehatan, saya kira buku ini adalah salah satu pengantar yang amat baik, ringkas, serta sederhana untuk memahami perihal kesehatan dari sudut pandang sosial, politik, dan ekonomi. Itulah alasan mengapa perspektif dalam ulasan buku ini perlu saya bagikan kepada pembaca luas.

Buku ini bukan yang menjelaskan mengenai penyakit itu sendiri (jelas ini ranah medika, biologi, atau yang serumpun dengannya). Melainkan, buku ini merekonstruksi bagaimana di masa lalu penyakit itu dipandang, disikapi, ditangani, diperlakukan, dan kemudian diwacanakan dalam sebuah struktur masyarakat. Artinya, pembahasan tentang penyakit di sini bukan sedang masuk ke dalam ranah medis, melainkan melampui hal-hal yang bersifat teknis-biologis tersebut. Dalam historiografi Indonesia, pembahasan tentang sejarah kesehatan seperti ini memang masih belum begitu familiar, sehingga kehadiran buku ini pada dasarnya memberikan sumbangan berarti untuk memperkaya rekonstruksi sejarah Indonesia.

Sifilis dan Goyahnya Fondasi Imperium Kolonial

Gani Ahmad Jaelani, sang penulis yang adalah sejarawan sekaligus dosen sejarah di Universitas Padjadjaran, Bandung, menelusuri perihal penyakit kelamin sebagai salah satu penyakit yang ketika itu menjangkiti kawula Hindia Belanda di abad ke-19 dan 20, dan terutama kemudian bagaimana penyakit itu direspons oleh pemerintah kolonial maupun masyarakat jajahan itu sendiri. Layaknya penyakit-penyakit lain di masa itu, penyakit kelamin yang dikenal sebagai sifilis ini dianggap sebagai salah satu penghambat kemajuan dunia kolonial oleh pemerintah kolonial Belanda, utamanya dalam usaha mereka untuk terus mempertahankan imperium jajahan yang telah berusia beberapa abad tersebut. Keberadaan penyakit ini kemudian menjadi perhatian pemerintah kolonial yang melihatnya dari kacamata moral, medis, hingga ekonomis.

Melalui riset yang semula berupa tesis ini, Gani membongkar banyak hal perihal penyakit kelamin (sifilis) ini dipandang dari berbagai sudut (politik, kedokteran, maupun populer/sosial), dan kaitan penting apa dengan kekuasaan kolonial/Barat yang dominan dan menjajah ketika itu. Berbagai sudut pandang ini kemudian memperlihatkan sengkarut yang saling berkait: pemerintah kolonial khawatir karena penyakit ini menyerang tentara yang adalah tumpuan politik dan ekonomi mereka; dokter khawatir karena penyakit ini menyerang tubuh dan mengancam degenerasi; serta masyarakat waswas karena kehadiran sifilis berarti ancaman atas laku moral warga saat itu.

Bias Gender: Perempuan Sebagai Kambing Hitam

Tidak kalah penting, Gani juga memperlihatkan bahwa dalam sejarahnya, penyakit kelamin juga berkait erat dengan persoalan stigmatisasi, utamanya perempuan, karena ada satu periode ketika sifilis disebut sebagai “penyakit perempuan” (kendati mereka yang terjangkit nyaris seluruhnya adalah laki-laki). Selain persoalan stigma dan bias gender yang melingkupinya, sifilis juga memperlihatkan bahwa sejatinya penyakit ini justru berkembang di kalangan mereka yang kerap dianggap sebagai orang beradab, elite, dan modern.

Tentu saja hal ini sering membuat “malu” pemerintah kolonial sehingga kerap kali “menyembunyikan” keberadaan penyakit ini, alih-alih mengakuinya sebagai sebuah wabah yang dapat mengancam siapapun. Hal ini disebabkan karena pada mulanya penyakit kelamin justru menjangkiti mereka yang menjadi penopang kekuasaan kolonial Belanda: serdadu Eropa. Maka cara paling mudah tentu saja adalah mencari kambing hitam atas penyakit yang jelas-jelas justru menjangkiti mereka yang dianggap oleh kuasa kolonial sebagai orang-orang yang beradab secara moral serta statusnya lebih tinggi daripada kawula jajahan pada umumnya. Dan sasaran paling empuk untuk dijadikan kambing hitam tersebut adalah orang pribumi, dan terutama sekali perempuan. Mereka dianggap sebagai biang keladi dari kemunculan dan persebaran penyakit ini.

Baca juga: Intan Paramaditha & Realitas Pahit dalam Sihir Perempuan

Civilisatie vs Syphilisatie: Dua Sisi Mata Uang

Dengan penelusuran sumber-sumber historis sezaman, Gani kemudian merekonstruksi bagaimana penyebaran sifilis ketika itu seolah menjadi dua sisi mata uang dari hadirnya modernisasi dan pemberadaban. Maka, seperti judul dalam edisi terbitan Pustaka Pias, Civilisatie/Syphilisatie, proses pembaratan (civilisatie) juga turut serta membawa penyakit kelamin (syphilisatie) yang hampir tidak mungkin ditolak.

Ada paradoks di sini! Dan persis seperti yang ia tuliskan di epilog buku ini:

“Upaya untuk menganalisis satu penyakit bisa membuka lapisan-lapisan yang ada di dalam masyarakat, tegangan-tegangan antara berbagai kelompok, dan perebutan kuasa dalam bentuk dominasi pengetahuan di antara mereka.” (hlm. 177)

Artinya, sesuatu yang kerap dianggap natural seperti halnya penyakit, wabah, maupun virus, tidak pernah benar-benar alami karena ia terikat pada banyak sekali kepentingan politik, ekonomi, maupun sosial yang menyebabkan kemunculan dan penyebarannya.

Leave a comment

Your email address will not be published. Ruas yang wajib ditandai *